![]() |
gambar ini hanya ilustrasi |
Menurut al-Hamawi, tatkala Ibnu Sikkit mulai menginjak dewasa, ia pun tak bisa menahan obsesinya untuk merantau ke Basrah dan Kufah demi mempelajari ilmu nahwu. Di antara guru-gurunya di Kufah, antara lain: Abu Zakaria Al-Farra’ (w.207 H), Abu Amr Al-Syaibani (w. 213 H), Abu Amr bin Al-‘’Arabi (w. 231 H), Abul Hasan Al Atsram (w.232 H), dan ABul Hasan Al Lihyani. Di Basrah, Ibnu Sikkit menimba ilmu kepada Abu Zaid Al-Anshari (w. 215 H), Al-‘Ashma’I Abdul Malik bin Qarib (w/ 216 H) dan Abu Ubaid Mu’ammar bin Al Mutsanna (w. 209 H).
Ibnu Sikkit banyak menulis kamus-kamus ma’ani (tematik), antara lain: Al- Adhdadh (antonym), Al-Hasyarat (serangga), Al-Nabaat (tumbuhan), Al-Wahsy (binatang buas), Al-Ibil (unta), Al-Isytiqaq (devirasi), Al-Ashwaat wa AL-Alfadz (suara dan lafal) dan beberapa karya lainnya. Semua karya tulisannya hamper berjumlah 40 judul buku. Karya terbesarnya, berjudul Ishlah Al-Mantiq, sebuah buku yang memuat ilmu bahasa dan logika yang terkenal paling baik di Baghdad pada era Ibnu Sikkit.
ini dia salah satu ulam top
BalasHapusYup betul sekali mas
BalasHapusini dia salah satu ahli nahwu dan sharaf yang mempunyai kedalaman ilmu tiada terduga. semoga beliau selalu mendapat hidayah Allah, amin.
BalasHapus